Jakarta, Mengeluh tenggorokannya meradang dan demam, pria ini didiagnosis dokter dengan tonsilitias alias radang amandel. Tapi beberapa hari setelah diberi penisilin, di ketiak, pangkal paha dan pantatnya muncul ruam. Apa yang terjadi?
Kondisi ini secara formal disebut dengan symmetrical drug-related intertriginous and flexural exanthema (SDRIFE) atau semacam alergi terhadap obat antibiotik. Nama lainnya adalah sindrom baboon, karena ruam di pantat pasien hampir menyerupai warna pantat beberapa jenis monyet yang juga cenderung memerah.
Namun karena dokter kerap meresepkan antibiotik seperti penisilin untuk mengobati amandel dan infeksi akibat bakteri lainnya, peneliti merasa kasus yang dialami pria berusia 40 tahun ini penting untuk diketahui. Pasalnya sindrom baboon bisa jadi salah satu efek samping dari konsumsi antibiotik tersebut.
"Sindrom baboon biasanya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap penisilin, tapi bisa juga karena paparan logam merkuri atau nikel," ungkap Dr Andreas Bircher, dokter spesialis kulit dari University Hospital of Basel di Swiss. Meski tidak terlibat dalam studi ini, Dr Bircher pernah menemukan kasus lain dari sindrom baboon.
Dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan tim dokter NHS Lothian Hospital UK yang menemukan kasus ini diketahui bahwa tonsil atau amandel pasien tersebut membesar dan meradang.
Dokter yang menangani pria ini kemudian meresepkan penisilin, tapi dua hari kemudian ia malah kesulitan menelan makanan. Lalu dokter jaga UGD yang melihatnya memberinya benzylpeniciliin intravena empat kali sehari dan dosis tunggal dexamethasone intravena, obat steroid yang digunakan untuk mengatasi radang.
Keesokan harinya, pasien tersebut mengeluhkan munculnya ruam di sekitar pangkal paha dan paha bagian dalamnya. Dokter pun berasumsi itu adalah reaksi tubuh pasien terhadap penisilin, se hingga kemudian ia mengubah antibiotik itu menjadi clarithromycin (sama-sama antibiotik namun beda kelas dengan penisilin).Next
(vit/vit) health.detik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar