Jakarta, Rahasia pernikahan dengan usia yang panjang selama ini diketahui salah satunya adalah saling pengertian dan kompromi. Namun kini sebuah studi mengungkapkan adanya faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan sebuah pasangan mempertahankan hubungannya, yaitu dari gen mereka.
Dilansir Daily Mail, Rabu (9/10/2013), psikolog Amerika menyatakan bahwa DNA dari kita dan pasangan dapat menjadi kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Mereka percaya bahwa gen yang terlibat dalam regulasi serotonin atau yang sering disebut sebagai 'happy hormone' dapat pula memprediksi emosi yang mempengaruhi sebuah hubungan, termasuk hubungan pernikahan.
Penelitian yang dilakukan oleh University of California, Berkeley, dan Northwestern University, mencoba untuk mencari tahu mengenai adanya hubungan antara genetika, emosi, dan kebahagiaan pernikahan .
Seorang psikolog sekaligus penulis senior studi tersebut, Robert W Levenson, mengatakan bahwa dengan penemuan genetik terbaru ini, kini dapat dipahami lebih banyak mengenai pentingnya gen dan perubahan emosi pada sebagian besar orang.
Secara khusus, dari studi ini para peneliti menemukan adanya hubungan antara kebahagiaan sebuah hubungan dengan varian gen atau alel, yang dikenal sebagai 5-HTTLPR. Setiap manusia mewarisi salinan varian gen tersebut dari orang tuanya masing-masing.
Melacak lebih dari 150 pasangan menikah selama lebih dari 20 tahun, ditemukan bahwa responden dengan dua alel 5-HTTLPR pendek ditemukan paling tak bahagia dalam pernikahan mereka saat terdapat emosi negatif seperti kemarahan dan penghinaan, dan juga paling bahagia saat terdapat emosi positif, seperti humor dan kasih sayang. Sebaliknya, responden dengan satu atau dua alel panjang lebih tidak terganggu oleh masalah emosional dalam pernikahan mereka.
"Kami selalu berusaha untu k memahami resep untuk hubungan yang baik dan emosi terus muncul sebagai unsur penting," tutur Levenson.
Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa tidak berarti bahwa pasangan dengan variasi yang berbeda dari 5-HTTLPR berarti tidak cocok. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa pasangan dengan dua alel pendek lebih mungkin untuk berkembang dalam hubungan yang baik, meskipun terpuruk ketika berada dalam situasi yang buruk.
"Orang dengan dua alel pendek dari varian gennya mungkin seperti bunga rumah kaca, mekar dengan baik dalam pernikahan ketika iklim emosionalnya sedang baik dan layu saat iklim emosionalnya sedang buruk. Sebaliknya, orang dengan satu atau dua alel panjang kurang sensitif terhadap iklim emosional," terang Claudia M. Haase, penulis utama studi dari Northwestern University.
Menurut Claudia, tak satu pun dari varian genetik secara langsung dapat dianggap baik atau buruk. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Pesert a dalam penelitian ini terdiri atas 156 pasangan setengah baya dan lebih tua yang diteliti sejak tahun 1989. Untuk studi ini, peserta memberikan sampel DNA dan peneliti mencocokkan genotipe dengan tingkat kebahagiaan pernikahan mereka.
Untuk pasangan dengan dua alel pendek 5-HTTLPR, peneliti menemukan adanya korelasi kuat antara sisi emosional dan bagaimana kebahagiaan pernikahan mereka. Sementara pasangan dengan satu atau dua alel panjang memiliki kualitas emosional dalam diskusi yang lebih sedikit dan cenderung tak bahagia dalam pernikahannya.
Penelitian ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Emotion.
(ajg/vit)
health.detik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar