Selasa, 26 November 2013

Gedung Sekolah Lembab dan Berjamur Picu Serangan Alergi Langka pada Gadis Ini

Gedung Sekolah Lembab dan Berjamur Picu Serangan Alergi Langka pada Gadis Ini

Jakarta, Di negara empat musim, terutama saat musim gugur tiba, tentu lebih enak berdiam diri di rumah dan menyalakan pemanas. Tapi jika ventilasinya tak memadai, bisa-bisa rumah jadi lembab dan jamur pun tumbuh subur. Padahal pada kondisi langka, jamur dapat membahayakan nyawa, seperti halnya yang dialami gadis asal Inggris.

November tahun lalu, Katie Fant tengah berada di sekolah ketika secara tiba-tiba ia merasakan sesak nafas. Tenggorokannya seperti menutup lalu lidahnya mulai membengkak. Saat itu juga Katie bergegas ke UKS. Dalam hitungan menit, muncul bentol-bentol merah besar (diameternya sekitar satu inci) di kedua lengan dan dadanya.

Beruntung 10 menit kemudian, seorang paramedis tiba dan memberi gadis berusia 17 tahun itu sebuah suntikan adrenaline. Ini ternyata dapat meredakan gejalanya, meski Katie tetap harus dilarikan ke rumah sakit de ngan ambulans, dimana nantinya ia juga diberi steroid. Demikian dikutip dari Daily Mail, Selasa (26/11/2013).

Ternyata Katie mengalami 'reaksi anafilaktik ekstrim', atau sebuah reaksi parah yang muncul akibat sistem imun tubuh yang memberikan respons berlebihan sehingga melepaskan histamine dalam jumlah besar, senyawa penyebab pembengkakan jaringan. Hal ini dapat berujung pada gangguan pernapasan dan penurunan tekanan darah serta cukup fatal.

Setelah 8 jam berada di rumah sakit, Katie akhirnya diperbolehkan pulang. Namun penyebab serangan alergi yang dialaminya tadi masih jadi misteri. Selama ini Katie memang mengidap demam hay dan sindrom alergi mulut d imana sejumlah makanan tertentu dapat menyebabkan mulutnya gatal dan bibirnya membengkak. Dalam kasus Katie, makanan yang membuatnya alergi adalah buah segar, sedangkan Katie tidak makan yang aneh-aneh.

Kemudian dokter merujuk Katie untuk menemui seorang spesialis alergi, tapi sayang ia harus menun ggu tiga bulan agar bisa bertemu sang pakar. Selama selang waktu tersebut, Katie mengalami sedikitnya satu reaksi anafilaktik setiap minggunya, dan itu selalu terjadi di sekolah.

"Ngerinya gejalanya terus bertambah parah setiap saat. Saya sampai membawa antihistamine setiap hari untuk mencegah serangan itu, termasuk dua EpiPens berisi adrenaline," tutur Katie.Next

(vta/vta) health.detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar